NasionalUtama

Halaman Gedung Sate akan Ditata, Habiskan Dana 15 Miliar

Foto: Istimewa

Klik Today || Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memastikan tidak ada penutupan Jalan Diponegoro dalam proyek penataan halaman Gedung Sate. Nantinya, kata dia, halaman Gedung Sate akan tergabung dengan area Gasibu.

Seperti diberitakan, berdasarkan data SiRUP Pemprov Jawa Barat, proyek penataan dan perluasan depan Gedung Sate menghabiskan anggaran total Rp15,82 miliar dari APBD 2026.

Rinciannya, pekerjaan fisik (e-purchasing) sebesar Rp15,037 miliar, jasa konsultasi perencanaan senilai Rp321,3 juta dan jasa konsultasi pengawasan Rp464,3 juta. Total keseluruhan mencapai Rp15,82 miliar.

“Bukan, jalannya melingkar. Jadi kan itu Gedung Sate ini Jalan Diponegoro. Nanti muter ke depan Pullman, belok kanan. Nanti sebagian Gasibu digunakan untuk jembatan di ujungnya, jadi lebih baik,” ujar Dedi Mulyadi di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Rabu (15/4/2026).

Ia pun memastikan aktivitas demonstrasi bakal tetap terfasilitasi tanpa perlu mengganggu arus lalu lintas. Selama ini, kata Dedi, gelombang demonstrasi kerap berdampak pada penutupan Jalan Diponegoro yang berada tepat di depan Gedung Sate. Kondisi itu memicu kemacetan parah di pusat Kota Bandung.

“Bayangin, bagaimanapun era demokratisasi melahirkan demonstrasi. Nah, setiap terjadi unjuk rasa itu Jalan Diponegoro ditutup. Akhirnya terjadi kemacetan di Kota Bandung yang parah,” ujarnya.

Dengan proyek tersebut, nantinya Pemprov Jabar merancang sistem sirkulasi lalu lintas baru yang memungkinkan jalan tetap terbuka meski ada aktivitas di halaman Gedung Sate.

“Sehingga nanti ke depan tidak akan pernah itu terjadi, karena Jalan Diponegoro-nya tetap terbuka, tidak akan terganggu oleh berbagai kegiatan di halaman Gedung Sate,” katanya.

Selain itu, penataan juga akan menyatukan elevasi atau ketinggian halaman Gedung Sate dan Gasibu agar terlihat lebih rapi, luas, dan terbuka sebagai ruang publik.

“Yang ada adalah penataan, halamannya jauh lebih bagus, sehingga nanti tinggi halaman Gasibu itu sama dengan tinggi halaman Gedung Sate,” kata Dedi.

Ia pun mengingatkan agar masyarakat tidak salah kaprah menyebut konsep tersebut sebagai “plaza”, karena yang dimaksud adalah ruang terbuka yang lebih luas dan terintegrasi, bukan bangunan baru.

“Jangan nyebut plaza, masyarakat enggak ngerti. Karena selama ini ketika ngomong plaza dianggapnya bangunan,” ucapnya.

Dengan penataan ini, Pemprov Jabar ingin mengembalikan fungsi Lapangan Gasibu sebagai bagian dari halaman Gedung Sate, bukan lagi terkesan menjadi halaman kawasan lain.

“Selama ini kan Gasibu kesannya menjadi halaman Pullman, bukan halaman Gedung Sate,” pungkasnya.

Editor: Batama Ardiansyah