NasionalUtama

Kemarau Panjang, Satu Juta Warga Krisis Air Bersih

Ilustrasi (Foto: BPBD DIY Yogjakarta)

Klik Today || Musim kemarau panjang tahun 2026 memberikan dampak luas di Jawa Barat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kemarau tahun ini lebih kering, lebih panjang, dan lebih ekstrem dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam prediksi musim hujan 2026/2027 menyebut kombinasi El Nino intensitas sangat kuat di Samudra Pasifik dan Indian Ocean Dipole (IOD) Positif menjadi pemicu utama.

“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia,” ujarnya. 

Puncaknya yang biasanya terjadi di Agustus, tahun ini mundur hingga akhir Oktober 2026, dan awal musim hujan baru akan masuk pada November – Desember 2026 di sebagian besar wilayah. 

Untuk Jawa Barat sendiri, sekitar 56 persen wilayah mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026, dan sekitar 93 persen wilayah diprediksi mengalami kondisi lebih kering dari normal.

Selain itu, sekitar 81 persen wilayah diperkirakan mengalami durasi kemarau yang lebih panjang. 

Satu Juta Warga Kesulitan Air Bersih

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat per 21 September 2026 mencatat krisis air bersih melanda 688 desa dan kelurahan di 247 kecamatan se-Jawa Barat. 

Total warga terdampak mencapai 1.018.922 jiwa dari 307.295 kepala keluarga. Penurunan debit sumur dan sumber air lokal mempersulit masyarakat memenuhi kebutuhan dasar harian.

Dampak paling parah terlihat di wilayah timur dan selatan Jabar, antara lain Kabupaten Pangandaran. Di sini kekeringan melanda 38 desa di 9 kecamatan, 27.946 jiwa dari 9.494 KK terdampak. Distribusi air bersih sebanyak 2.453.000 liter telah disalurkan oleh BPBD dan Tagana.

Di Kabupaten Cianjur,  Status Siaga Kekeringan diperpanjang hingga November 2026 karena curah hujan masih rendah dan dampak El Nino diprediksi berlanjut hingga 2027.

Warga di Kabupaten Bekasi dan Karawang dilaporkan harus mencari sumber mata air lain setelah sumur di rumah mereka mengering.

Tidak Hanya Iklim, Kerusakan DAS Memperparah

Pakar Hidrologi dan Pengelolaan DAS UGM, Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, menilai kekeringan di Jabar tidak hanya dipicu faktor iklim. Kerusakan sistem Daerah Aliran Sungai (DAS) memperparah penurunan kemampuan tanah menyimpan air. 

“Kalau sampai wilayah yang menerima atau memiliki input hujan yang lebih banyak saja kekurangan air, berarti ada dua kemungkinan besar. Satu, memang kebutuhannya semakin lama semakin tinggi… atau memang ada kerusakan sistem DAS,” kata Hatma. 

Dampak Lain yang Harus Diwaspadai

BMKG dan BPBD mengimbau pemerintah daerah untuk antisipasi yaitu,Krisis Air Bersih. Di sejumlah daerah di Jabar sumur warga mengering, terutama di Kabupaten  Garut, Sumedang, dan Kota Bandung. Kemudian akibat kemarau ini juga mengancam petani gagal panen.

Petani terancam gagal panen karena kekurangan pasokan air irigasi. BRMP merekomendasikan penggunaan varietas tahan kekeringan.,

Hal yang harus diwaspadai lainya yakni potensi kebakaran hutan dan Lahan (Karhutla) yang meningkat drastis, terutama di lahan perbukitan. Pun soal gangguan iriigasi pertanian sebab kekeringan meteorologis berdampak langsung pada sistem pertanian. 

Karena itu BMKG juga mengimbau masyarakat untuk mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air, menampung air hujan, dan menyesuaikan kalender tanam.

Editor: Batama Ardiansyah