PendidikanUtama

SMPN 4 Cibitung Sukses Jalankan Program VCO, Layung Lestari: “Ini Sarana untuk Meningkatkan Life Skill Siswa”

Foto: Istimewa

Klik Today || “Perjalanan pembuatan Virgin Coconut Oil atau VCO bagian dari kokurikuler lintas mapel melalui program Menanam Harapan di Tepi Sungai,” demikian dikatakan Layung Lestari, SPd, Kepala SMPN 4 Cibitung Satu Atap, Kabupaten Sukabumi, Selasa (4/8/2026).

Layung menuturkan, pembuatan VCO ini bukanlah perjalanan yang mudah, yakni sejak dimulai pada tanggal 23 Oktober 2024.

“Kami menyadari bahwa membangun sebuah program yang berkualitas dan berkelanjutan membutuhkan proses, kesabaran, dan semangat untuk terus belajar. Selama hampir dua tahun, kami terus melakukan berbagai percobaan, evaluasi, dan penyempurnaan agar program ini benar-benar dapat menjadi pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik,” ujar Layung.

Proyek ini, lanjut Layung, menekankan pada proses pembelajaran jangka panjang, kesabaran, dan evaluasi berkelanjutan untuk menciptakan edukasi yang bermakna bagi siswa.

Analisis Proses dan Pengembangan Program

Program pembuatan VCO ini bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan sebuah perjalanan pedagogis yang dirancang untuk mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu.

Sejak diluncurkan, pihak sekolah menyadari bahwa membangun program yang berkualitas dan berkelanjutan memerlukan dedikasi penuh terhadap proses belajar, melampaui sekadar hasil akhir produk semata.

Lintas Mata Pelajaran

Menekankan pada kesabaran, evaluasi, dan penyempurnaan sebagai pilar utama pembelajaran bermakna.
Selama kurun waktu hampir dua tahun, program ini telah melewati berbagai fase krusial yang mencakup percobaan berulang, evaluasi teknis, dan penyempurnaan sistem.

Upaya konsisten ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap tahapan produksi VCO dapat diinternalisasi oleh peserta didik sebagai pengalaman belajar yang aplikatif dan relevan dengan kehidupan nyata.

Layung mengatakan, tujuan dari pembuatan visio ini meningkatkan keterampilan hidup atau life skill, sehingga peserta didik memiliki bekal untuk menciptakan peluang dari sumber daya yang tersedia di lingkungannya dan menumbuhkan rasa bangga dan kepedulian terhadap potensi daerah, sehingga peserta didik terdorong untuk mengembangkan dan melestarikan sumber daya lokal sebagai aset yang bernilai. Sejalan dengan visi sekolah, yaitu terwujudnya peserta didik yang berakhlak mulia, kreatif, dan mandiri.

“Dalam proses ini, kami menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan alat, contohnya parut kelapa yang masih manual, sehingga memerlukan waktu yang lama, kondisi cuaca yang tidak menentu, sempat pakum karena bencana banjir bandang, dan beberapa kali mengalami kegagalan panen visio, Ini adalah bagian dari proses belajar kami,” ujar Layung.

“Ada kalanya minyak yang dihasilkan tidak jernih, tidak terpisah sempurna, atau bahkan gagal terbentuk. Namun, setiap kegagalan menjadi pembelajaran berharga yang mendorong kami untuk terus mencoba memperbaiki proses dan tidak mudah menyerah,” imbuhnya.

Seiring berjalannya waktu, kata Layung, kini sudah mampu memproduksi VCO sendiri. Prosesnya dimulai dengan memilih kelapa tua yang berkualitas. Kemudian daging kelapa diparut dan diperas menjadi santan menggunakan air kemasan.

Santan didiamkan selama 24 jam sehingga terpisah menjadi air, ampas, dan minyak. Minyak kemudian diambil dan disaring hingga menghasilkan VCO yang jernih dan berkualitas.

“Saat ini kami sudah mulai memasarkan produk VCO. Alhamdulillah beberapa botol telah berhasil terjual. Bahkan pembeli harus melakukan pre-order karena keterbatasan alat produksi. Dari hasil penjualan skala kecil tersebut, kami berhasil membeli mesin parut kelapa listrik yang menggunakan energi tenaga surya. Selain itu, sekolah juga memiliki aset 4 pohon kelapa yang sudah siap berbuah sebagai bahan baku pembuatan VCO, sehingga program ini dapat terus berkembang,” tuturnya.

Harapan kedepannya, kata Layung, bisa membuka ruang produksi khusus VCO agar tidak mengganggu ruang pembelajaran. Dan VCO ini menjadi ciri khas kekayaan sekolah dan kampung Ciloma sehingga bisa menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung ke sekolah kami. Hari ini setiap botol VCO yang dihasilkan bukan sekedar produk olahan kelapa.

Di dalamnya tersimpan cerita tentang ketekunan, kerjasama, kesabaran, dan semangat pantang menyerah. Program ini mengajarkan bahwa keberhasilan tidak lahir. Dari satu kali percobaan, tetapi dari keberanian untuk terus bangkit, belajar dari kegagalan dan terus berinovasi hingga menghasilkan karya terbaik.

“Inilah nilai utama yang ingin kami tanamkan kepada peserta didik, bahwa proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh akan melahirkan hasil yang membanggakan dan menjadi bekal berharga untuk masa depan,” ujar Layung Lestari.***

Editor: Batama Ardiansyah